PUPUK RAMAH LINGKUNGAN
TANPA pernah duduk di bangku kuliah, Bayu Suryono (38) mampu merancang formula pupuk ramah lingkungan yang kini mulai populer di kalangan petani. Berkat ketekunannya melakukan percobaan fermentasi terhadap cacing (Lumbricus rubellus), pria yang berijazah terakhir sekolah menengah atas (SMA) jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial itu, malah menyaingi ketenaran Ir Bambang Sudiarto, dosen biologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
Padahal, sebelum mengenal unsur-unsur kimia yang terkandung dalam tubuh hewan lunak itu, pegawai Pemerintah Kota Yogyakarta tersebut justru berguru pada Bambang. Pertengahan tahun 1999, dia rela bolos dari kantor, demi mengikuti pelatihan budidaya cacing dan rekayasa teknologi cacing yang diadakan Bambang di Bandung.
Awal tahun 2000, ayah dari dua anak itu berhasil menemukan formulasi pupuk organik cair dengan bahan
Setelah memperoleh hak paten dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, formula itu diproduksi komersial dengan merek dagang “Bio-KG”. Dari usaha industri rumahan di kawasan permukiman padat, Kecamatan Banguntapan, sekitar Kota Gede, Yogyakarta, Bayu dan dua atau tiga orang pekerjanya memproduksi sekitar empat bahkan lima ton pupuk cair per bulan.
Jumlah pekerja yang diserapnya tentu tidak signifikan untuk mengatasi angka pengangguran yang terus membengkak. Namun, dari sisi sosial-ekonomis, “pabrik” pupuk yang bernaung di bawah Kleco Group itu, sudah menjadi gantungan hidup puluhan hingga ratusan peternak cacing yang tersebar di Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah seperti Magelang dan Klaten.
Dalam setiap pekan, Bayu menerima pasokan cacing 100-200 kg dari peternak. Setiap kilo cacing dihargai Rp 20.000. Proses pemasaran dan promosinya menggunakan jaringan sosial, yang menyerupai model kemitraan plasma-inti. Setiap peternak dirangkul sebagai distributor.
“Kalau tidak begitu, saya bisa kewalahan mencari bahan
PROSES produksi pupuk cair organik versi Bayu, bermula dari penghancuran cacing dengan cara menggilingnya. Bubur cacing dicampurkan dengan sari pati sekitar 20 jenis tumbuhan, antara lain kecamba, daun imbau, dan gadung. Selanjutnya, “adonan” itu difermentasikan selama satu bulan.
Cairan yang dihasilkan itulah yang diberi nama “Bio-KG”. Dua huruf terakhir merupakan singkatan dari Kleco Group, nama perusahaannya.
Dengan promosi dari mulut ke mulut sesama peternak cacing dan petani, jaringan usaha KG sudah tersebar di seluruh Jawa-Madura, dan Bali, serta sebagian Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Satu kemasan (1 liter) Bio-KG dijual seharga Rp 25.000. Harga itu relatif murah ketimbang pupuk kimia, sebangsa urea, yang ongkosnya bisa Rp 40.000 untuk lahan berluas sama.
Hasil uji coba pada lahan padi milik Waji Riyanto Hartono di Desa Ngebel
Dalam hitungan ekonomi, penggunaan pupuk cair Bio-KG pada lahan 1.000 meter persegi menghasilkan 360 kg beras. Jika beras diasumsikan seharga Rp 2.500 per kg, maka hasil penjualan beras mencapai Rp 800.000. Bandingkan dengan penggunaan pupuk kimia yang hanya menghasilkan 210 kg beras dari lahan yang sama senilai maksimal Rp 420.000.
Keuntungan lain, penggunaan pupuk cair organik bisa meredam laju pertumbuhan rumput penganggu (gulma). Bahkan,
Pupuk cair Bio-KG juga dipakai manjur untuk tanaman bawang merah, wortel, jahe, tembakau, salak, bawang merah, semangka, dan tanaman hortikultura lainnya. Penggunaan Bio-KG pada tanaman bawang merah di atas lahan 350 meter persegi, tidak hanya meningkatkan produksi dari 250 menjadi 300 kg, tetapi juga mempercepat masa panen dari 70 menjadi 60 hari.
Untuk wortel, hasil uji coba di Magelang menunjukkan peningkatan hasil panen dari 5 kuintal menjadi 7,5 kuintal dari lahan 500 meter persegi. Masa panen pun maju dari 90 hari menjadi 85 hari.
Tidak berlebihan, jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul (DIY) menjadikan Bio-KG sebagai produk kebanggaan daerahnya.
“Produk itu sarat inovasi dan idealisme, terutama buat petani yang sering mengeluhkan harga pupuk urea,” ujar H Idham Samawi, Bupati Bantul.
Dalam rangka pengembangan lahan pasir pantai selatan, Pemkab Bantul pun merekomendasikan petani menggunakan Bio-KG untuk berbagai jenis hortikultura. Pertimbangannya, selain mengurangi tingkat pengeluaran biaya produksi pertanian, pupuk organik juga diyakini memelihara kandungan dan kestabilan tanah akan unsur hara.
KETEKUNAN Bayu berawal dari keprihatinan terhadap nasib peternak cacing. Dia ingat masyarakat keranjingan beternak cacing pada awal krisis moneter tahun 1997. Pada musim pemutusan hubungan kerja (PHK) itu usaha cacing dianggap sebagai salah satu solusi.
Belakangan, booming cacing tak mendapat sambutan dari pasar.
Penyebab utamanya, tidak ada mekanisme pasar yang berkesinambungan terhadap hasil ternak cacing. Bayu berpikir untuk mengolah cacing menjadi sebuah produk komersial, meski dalam skala rumah tangga.
Karena tidak ingin peternak cacing masuk dalam perangkap kapitalisme, Bayu menolak ketika sebuah perusahaan menawar hasil formulanya Rp 500 juta. Kalau dia berpikir pendek, tawaran itu bisa langsung ia sabet. Dibanding gajinya sebagai pegawai negeri rendahan, tawaran itu tentu menggiurkan.
“Saya tidak silau dengan uang sebanyak itu,” tegasnya. Dengan memasarkan formulanya, dia bahkan bisa memperoleh keuntungan berlipat ganda dari tawaran tadi. Sesuai motto perusahaannya, dia memilih menebar ekonomi kerakyatan.
Bayu tak ingin “kualat” terhadap gurunya. Sebagai wujud penghargaan atas ilmu cacing dari “sang guru”, nama Bambang Sudiarto dicantumkan sebagai pembina Kleco Group.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar